KEMUKJIZATAN AL- QUR`AN



Pendahuluan
Al-Qur`an
sebagai kitab
samawi terakhir
yang diberikan
kepada Muhammad
sebagai penuntun
dalam rangka
pembinaan umatnya
sangatlah
fenomenal. Lantaran
di dalamnya sarat
nilai-nilai yang unik,
pelik dan rumit
sekaligus luar biasa.
Hal ini lebih
disebabkan karena
eksistensinya yang
tidak hanya sebagai
ajaran keagamaan
saja, melainkan
ajaran kehidupan
yang mencakup
total tata nilai
semenjak hulu
peradaban umat
manusia hingga
hilirnya.
Diantara nilai-
nilai tersebut adalah
pada aspek
kebahasaannya,
isyarat-isyarat
ilmiyah dan muatan
hukum yang
terkandung
didalamnya. Saking
pelik, unik, rumit
dan keluar biasanya
tak pelak ia menjadi
objek kajian dari
berbagai macam
sudutnya, yang
darinya melahirkan
ketakkjuban bagi
yang beriman dan
cercaan bagi yang
ingkar.
Namun
demikian, seiring
dengan waktu dan
kemajuan
intelkstualitas
manusia yang diikuti
dengan
perkembangan ilmu
pengetahuan
modern, sedikit
demi sedikit nilai-
nilai tersebut dapat
terkuak dan
berpengaruh
terhadap kesadaran
manusia akan
keterbatasan
dirinya, sebaliknya
mengokohkan posisi
Al-Qur`an sebagai
kalam Tuhan yang
Qudus yang
berfungsi sebagai
petunjuk dan bukti
terhadap kebenaran
risalah yang dibawa
Muhammad.
Serentetan nilai Al-
Qur`an yang unik,
pelik, rumit
sekaligus luar biasa
hingga dapat
menundukkan
manusia dengan
segala potensinya
itulah yang lazimnya
disebut dengan
MUKJIZAT.
Pembahasan
1. Pengertian
Mukjizat
Kata
“Mukjizat” menurut
Quraish Shihab
berasal dari bahasa
Arab زجعأ yang
berarti
“ melemahkan atau
menjadikan tidak
mampu ”, sedangkan
ة“” ta’ marbutah
pada kata ةزجعم
menunjukkan makna
mubalaghoh
(superlative)1.
Menurut kamus
besar Purwo
Darminto adalah
“ kejadian ajaib/luar
bisaa yang sukar
dijangkau oleh
kemampuan
manusia”2.
Sedangkan menurut
pakar agama Islam
adalah “suatu hal
atau peristiwa luar
bisaa yang terjadi
melalui seorang
yang disebut Nabi,
sebagai bukti
kenabiannya yang di
tantangkan pada
yang meragukan,
untuk melakukan
atau mendatangkan
hal serupa, namun
mereka tidak
mampu melayani
tantangan
tersebut”.3 Manna’
Khalil Al-Qattan
menjelaskan bahwa
pengertian
“ Kelemahan” secara
umum ialah
ketidakmampuan
mengerjakan
sesuatu, sehingga
nampaklah
kemampuan dari
“mu’jis”(sesuatu
yang melemahkan).
Dan kata I ’jas dalam
konteks ini adalah
menampakkan
kebenaran Nabi
dalam
pengakuannya
sebagai seorang
Rasul dengan
menampakkan
kelemahan orang
Arab beserta
generasi-generasi
setelahnya untuk
menghadapi
mu ’jizatnya yang
abadi( Al-Qur`an).4
Dari definisi
tersebut di atas
dapat diturunkan
beberapa
pengertian
diantaranya:
Pertama; kejadian
luar bisaa yang
“ sukar” dijangkau
oleh kemampuan
manusia,
pertanyaan yang
muncul adalah
sejauh mana ke-luar
bisaaan mukjizat?
Dan kata “sukar”
pada definissi diatas
menimbulkan
probability tentang
adanya
kemungkinan bahwa
manusia akan bisa
sampai pada maqom
sukar tersebut, bila
demikian masihkah
disebut mu ’jizat?.
Dalam
bukunya yang
berjudul “Mukjizat
Al-Qur`an” Quraish
Shihab menjelaskan
bahwa kejadian luar
bisaa yang dimaksud
adalah sesuatu yang
berada diluar
jangkauan sebab
dan akibat yang
terdapat secara
umum pada hukum-
hukum alam
(sunatullah) yang
diketahui oleh
manusia5. Namun
demikian penulis
lebih berpendapat
bahwa semua
keajaiban yang
terjadi di alam
termasuk mukjizat
semuanya adalah
rasional artinya
bahwa sebenarnya
akal mampu
menerima
kebenaran logis
terhadap mukjizat.
Hal ini didasarkan
pada beberapa ayat
dalam Al-Qur`an
yang menjelaskan
tentang peristiwa-
peristiwa yang gaib
termasuk
konsekuensi dari
pahala dan dosa
yang akan diterima
oleh manusia besuk
di hari pembalasan
tetapi kenyataannya
banyak manusia
tidak percaya,
tepatnya dalam QS:
Yunus: 39 6 .
Dalam
pengertian lain
bahwa pengetahuan
manusia tentang
hukum sebab-akibat
yang terdapat di
alam hanyalah
sebagian kecil dari
hukum-hukum sebab
akibat yang ada
dalam pengetahuan
Tuhan. Sebagai
contoh adalah untuk
mendapatkan hasil
angka 7 bisa melalui
4+3 = 7 (hukum alam
yang dapat
diketahui manusia),
sedangkang masih
banyak sebab-akibat
dari hasil angka 7
yang tidak dapat
diketahui manusia
karena
keterbatasan
pengindraan.
Misalnya 3+3+1=7,
(2×2)+3=7, 10-3=7,
100-99+(2×2)+2=7
dst, yang semua
sebab-akibat
tersebut
ditunjukkan oleh
Tuhan maka
manusia akan
mampu
memahaminya. Oleh
karena itu termasuk
kata “sukar” di atas
kurang tepat.
Karena yakin bahwa
manusia dibatasi
oleh hukum-hukum
alam yang melekat
pada dirinya. Tetapi
seandainya Allah
memberikan
penjelasan maka
akal akan mampu
menerima
kebenaran tersebut,
namun
kenyataannya Allah
tak memberikan
penjelasan karena
ada tujuan-tujuan
tertentu yang tak
mudah kita pahami.
kedua; melemahkan.
Istilah ini juga
menggoda pada kita
untuk mengkaji
ulang. Diantara
pendapat datang
kaum Sirfah. Abu
Ishaq Ibrahim An-
Nizam dan
pengikutnya dari
kaum syi ’ah seperti
al-Murtadha
mengatakan bahwa
kemukjizatan Al-
Qur`an adalah
dengan cara shirfah
(pemalingan).
Artinya bahwa Allah
memalingkan orang-
orang Arab untuk
menantang Qur ’an,
padahal sebenarnya
mereka mampu,
maka pemalingan
inilah yang luar
bisaa yang
selanjutnya
pendapat ini di
habisi oleh Qadi Abu
bakar al-Baqalani ia
berkata: “kalau
yang luar bisaa itu
adalah shirfah maka
kalam Allah bukan
mukjizat melainkan
Shirfah itu sendiri
yang mukjizat ”
dengan berlandasan
pada QS. Al-Isra ’:88.
7
Berbeda dengan
pendapat kaum
sirfah, penulis lebih
memandang melalui
kaca mata dilalah
siyaqiyah, bahwa
makna
“ melemahkan-
dilemahkan ”
cenderung
mengarah pada
konteks menang
dan kalah. Hal inilah
yang menurut
penulis kurang etis.
Dan ternyata kata
melemahkan ةزجعم(
زجعي–)زجعأ tidak
terdapat dalam Al-
Qur`an. kalimat
yang digunakan
adalah تيأ (tanda-
tanda) dan تانيب
(penjelasan) yang
dari kedua kata
tersebut menurut
Prof. DR. H. Said
Aqil Munawar, MA.
mempunyai dua
pengertian
pertama;
pengkabaran Ilahi
(QS.3:118, 252/
QS.6:4/ QS10:7dan
QS.2:159/ QS 3:86/ QS
10:150). Kedua;
tanda-bukti yang
termasuk
digolongkan
mukjizat (QS.3:49/
QS.7:126/ QS.40:78/
QS.27:13 dan
QS.7:105/ QS.16:44/
QS.20:72)8. yang
menurut penulis
sebenarnya jauh
dari makna
melemahkan atau
bahkan
mengalahkan.
ketiga; dibawa oleh
seorang nabi.
Seandainya
peristiwa luar bisaa
tersebut terjadi
bukan pada nabi
meskipun secara
fungsi ada
kesamaan dengan
mukjizat, bisakah
disebut mukjizat?.
Dalam buku yang
sama Quraish Shihab
menjelaskan, selain
yang membawa nabi
kejadian luar bisaa
tersebut bukan
dinamakan mukjizat.
Beliau
menambahkan kalau
terjadi pada
seseorang yang
kelak akan menjadi
nabi maka disebut
Irhash, adakalanya
terjadi pada hamba
Allah yang taat yang
disebut karomah,
dan apabila terjadi
pada hamba yang
durhaka disebut
Istidroj (rangsangan
untuk lebih
durhaka) atau
Ihanah (penghinaan)
9. Semua peristiwa
tersebut adalah
merupakan tanda-
tanda dan bukti atas
kebesaran Allah
agar siapapun yang
menyaksikannya
baik melalui akal
maupun hatinya
dapat beriman
kepada Allah.
keempat; sebagai
bukti kerasulan.
Kata “bukti”
menyangkut
percaya dan tidak
percaya, seandainya
seseorang telah
percaya pada rasul
bahwa Ia adalah
utusan Allah,
adakah masih
disebut mukjizat?.
Dari definisi
mukkjizat, makna
“bukti atau tanda”
inilah yang paling
utama bukan lemah
dan melemahkan
karena tujuan
risalah (kerasulan)
adalah agar
seseorang mampu
memahami dan
meyakini bahwa
risalah tersebut
benar-benar dari
Zat yang Maha
Kuasa yaitu Allah
SWT. Adapaun bagi
mereka yang sudah
percaya terhadap
kerasulan Nabi
beserta apa yang
disampaikannya
yang berupa wahyu
dari Tuhan maka
peristiwa luar bisaa
tersebut tetap
disebut mukjizat.
Sebab dimensi lain
makna mukjizat
(ketidak mampuan
akal) tetap berlaku
pada orang yang
sudah percaya
tersebut. Oleh
karena itu fungsinya
disamping sebagai
“bukti” juga
merupakan
penjelasan dan
pemantapan
terhadap keyakinan
seseorang.
kelima; mengandung
tantangan. Memang
kebanyakan ulama
diantara misalnya
Syahrur juga melihat
QS. Al-Isra ’: 88
mengandung
tantangan dan
tantangan tersebut
berakhir pada
kelemahan mu’jas10,
namun hemat
penulis bahwa
sebenarnya Allah
tidak hendak
menantang orang-
orang kafir.
Bagaimana bisa
Tuhan menantang
mahluknya jelas
inpossible, karena
maksud dan
tujuannya bukan
untuk menantang.
Dalam ilmu
dilaliyah, conten
analisis perlu
meneropong gaya
penuturan Autor,
misalnya kalimat ”
ayo kalau
berani !” ( kondisi
marah) mempunyai
makna tantangan,
sedangkan ” ayo
kalau berani
” (kodisi tersenyum)
bermakana menguji.
2. Makna
Kemujizatan Al-
Qur`an
Berdsarkan
sifatnya, mukjizat
(Al-Qur`an) yang
diberikan kepada
nabi Muhammad
SAW. sangatlah
berbeda dengan
mukjizat-mukjizat
yang diberikan
kepada nabi-nabi
terdahulu. Jika para
nabi sebelumnya
bersifat Hissiy-
Matrial sedangkan
Al-Qur`an bersifat
maknawy /
immateri.
Perbedaan tersebut
bertolak pada dua
hal mendasar yaitu
pertama, para nabi
sebelum Muhammad
SAW. ditugaskan
pada masyarakat
dan masa tertentu.
Oleh karenanya
mukjizat tersebut
hanya sementara.
Sedangkan Al-
Qur`an tidak
terbatas pada
masyrakat dan masa
tertentu sehingga
berlaku sepanjang
masa. Kedua, secara
historis-sosiologis
dalam pemikirannya
manusia mengalami
perkembangan.
Auguste Comte
(1798-1857) –
sebagaimana dikutip
oleh Quraish Shihab-
ia berpendapat
bahwa pikiran
manusia dalam
perkembangannya
mengalami tiga
fase. Pertama Fase
keagamaan,
dikarenakan
keterbatasan
pengetahuan
manusia ia
mengembalikan
penafsiran semua
gejala yang terjadi
pada kekuatan
Tuhan atau dewa
yang diciptakan dari
benaknya. Kedua
fase metafisika,
yaitu manusia
berusaha
menafsirkan gejala
yang ada dengan
mengembalikan
pada sumber dasar
atau awal
kejadiannya. Ketiga
fase ilmiah, dimana
manusia dalam
menafsirkan gejala
atau fenomena
berdasarkan
pengamatan secara
teliti dan
eksperimen
sehingga didapatkan
hukum-hukum yang
mengatur fenomena
tersebut11. Posisi Al-
Qur`an sebagai
mukjizat adalah
pada fase ketiga
dimana ditengarahi
bahwa potensi pikir-
rasa manusia sudah
luar biasa sehingga
bersifat universal
dan eternal.
Umumnya
mukjizat para rasul
berkaitan dengan
hal yang dianggap
bernilai tinggi dan
sebagai keunggulan
oleh masing-masing
umatnya pada masa
itu. Misalnya pada
zaman nabi Musa
lagi ngeternnya
tukang sihir, maka
mukjizatnya
sebagaimana
tertera dalam QS.
Al-a ’raf: 103-126, As-
Su’ara’: 30-51, dan
Thoha: 57-73. pada
nabi Isa adalah
zaman perdukunan /
tabib maka
mukjizatnya adalah
seperti pada QS. Ali
Imran: 49 dan Al-
Maidah: 110. Dan
pada zaman
Muhammad lagi
marak-maraknya
sastra sehingga
mukjizat yang mach
adalah Al-Qur`an12.
Dari sinilah sebagian
ulama berpendapat
bahwa kemukjizatan
Al-Qur`an yang
utama saat itu
adalah kebahasaan
dan kesastraannya
di samping isi yang
terkandung di
dalamnya.
Kemukjizatan Al-
Qur`an dari aspek
Basaha dan Sastra
Dari segi
kebahasaan dan
kesastraannya Al-
Qur`an mempunyai
gaya bahasa yang
khas yang sangat
berbeda dengan
bahasa masyarakat
Arab, baik dari
pemilihan huruf dan
kalimat yang
keduanya
mempunyai makna
yang dalam. Usman
bin Jinni(932-1002)
seorang pakar
bahasa Arab -
sebagaimana
dituturkanQuraish
Shihab- mengatakan
bahwa pemilihan
kosa kata dalam
bahasa Arab
bukanlah suatu
kebetulan
melainkan
mempunyai nilai
falsafah bahasa
yang tinggi13.
Kalimat-kalimat
dalam Al-Qur`an
mampu
mengeluarkan
sesuatu yang
abstrak kepada
fenomena yang
konkrit sehingga
dapat dirasakan ruh
dinamikanya,
termasuk
menundukkan
seluruh kata dalam
suatu bahasa untuk
setiap makna dan
imajinasi yang
digambarkannya.
Kehalusan bahasa
dan uslub Al-Qur`an
yang menakjubkan
terlihat dari balgoh
dan fasohahnya,
baik yang konkrit
maupun abstrak
dalam
mengekspresikan
dan mengeksplorasi
makna yang dituju
sehingga dapat
komunikatif antara
Autor(Allah) dan
penikmat (umat)14.
Kajian
mengenai Style Al-
Qur`an, Shihabuddin
menjelaskan dalam
bukunya Stilistika
Al-Qur`an, bahwa
pemilihan huruf
dalam Al-Qur`an
dan
penggabungannya
antara konsonan
dan vocal sangat
serasi sehingga
memudahkan dalam
pengucapannya.
Lebih lanjut –dengan
mengutip Az-
Zarqoni- keserasian
tersebut adalah tata
bunyi harakah,
sukun, mad dan
ghunnah(nasal). Dari
paduan ini bacaan
Al-Qur`an akan
menyerupai suatu
alunan musik atau
irama lagu yang
mengagumkan.
Perpindahan dari
satu nada ke nada
yang lain sangat
bervariasi sehingga
warna musik yang
ditimbulkanpun
beragam.
Keserasianakhir
ayat melebihi
keindahan puisi, hal
ini dikarenakan Al-
Qur`an mempunyai
purwakanti
beragam sehingga
tidak menjemukan.
Misalnya dalam
surat Al-Kahfi(18:
9-16) yang diakhiri
vocal “a” dan
diiringi konsonan
yang berfariasi,
sehingga tak aneh
kalau mereka
(masyarakat Arab)
terenyuh dan
mengira Muhammad
berpuisi. Namun
Walid Al-mughiroh
membantah karena
berbeda dengan
kaidah-kaidah puisi
yang ada, lalu ia
mengira ucapan
Muhammad adalah
sihir karena mirip
dengan keindahan
bunyi sihir (mantra)
yang prosais dan
puitis. Sebagaimana
pula dilontarkan
oleh Montgomery
Watt dalam bukunya
“ bell’s Introduction
to the Qoran”
bahwa style Quran
adalah Soothsayer
Utterance (mantera
tukang tenung),
karena gaya itu
sangat tipis dengan
ganyanya tukang
tenung, penyair dan
orang gila.15 Terkait
dengan nada dan
lagam bahasa ini,
Quraish Shihab
mngutip pendapat
Marmaduke -
cendikiawan Inggris-
ia mengatakan
bahwa Al-Qur`an
mempunyai simponi
yang tidak ada
taranya dimana
setiap nada-nadanya
bisa menggerakkan
manusia untuk
menangis dan
bersuka cita.
Misalnya dalam
surat An-Naazi’at
ayat 1-5. Kemudian
dilanjutkan dengan
lagam yang berbeda
ayat 6-14, yang
ternyata perpaduan
lagam ini dapat
mempengaruhi
psikologis
seseorang.16
Selain efek
fonologi terhadap
irama, juga
penempatan huruf-
huruf Al-Qur`an
tersebut
menimbulkan efek
fonologi terhadap
makna, contohnya
sebagaimana
dikutip Shihabuddin
Qulyubi dalam
bukunya Najlah
“Lughah Al-Qur`an
al-karim fi Juz
‘amma”, bunyi yang
didominasi oleh
jenis konsonan
frikatif (huruf sin)
memberi kesan
bisikan para pelaku
kejahatan dan
tipuan, demikian
pula pengulangan
dan bacaan cepat
huruf ra’ pada QS.
An-Naazi’at
menggambarkan
getaran bumi dan
langit. Contoh lain
dalam surat Al-
haqqah dan Al-
Qari’ah terkesan
lambat tapi kuat,
karena ayat ini
mengandung makna
pelajaran dan
peringatan tentang
hari kiyamat.17
Dari pemilihan
kata dan kalimat
misalnya, Al-Qur`an
mempunyai sinonim
dan homonym yang
sangat beragam.
contohnya kata
yang berkaitan
dengan perasaan
cinta. قلع
diungkapkan saat
bertatap pandang
atau mendengar
kabar yang
menyenangkan,
kemudian jika sudah
ada perasaan untuk
bertemu dan
mendekat
menggunakan ليم,
seterusnya bila
sudah ada keinginan
untuk menguasai
dan memiliki
dengan ungkapan
ةدوم, tingkat
berikutnya ةبحم,
dilanjutkan dengan
ةلخ, lalu ةبابصلا ,
terus ىوهلا , dan
bila sudah muncul
pengorbanan
meskipun
membahayakan diri
sendiri namanya
قشعلا , bila kadar
cinta telah
memenuhi ruang
hidupnya dan tidak
ada yang lain maka
menjadi ميتتلا ,
yang semua itu bila
berujung pada tarap
tidak mampu
mengendalikan diri,
membedakan
sesuatu maka
disebut هيلو .18
yang semua kata-
kata tersebut
mempunyai porsi
dan efek makna
masing-masing.
Meminjam
bahasanya
Sihabuddin disebut
lafal-lafal yang
tepat makna
artinya pemilihan
lafal-lafal tersebut
sesuai dengan
konteksnya masing-
masing. Misalanya,
dalam
menggambarkan
kondisi yang tua
renta (Zakaria)
dalam QS. Maryam:
3-6, Wahanal ‘Azmu
minni bukan
Wahanal lahmu
minni. Juga
Wasyta’alar-ra’su
syaiba (uban itu
telah memenuhi
kepala) bukan
Wasyta’alas- syaibu
fi ra’si (uban itu ada
di kepala).19
Masih dalam
konteks redaksi
bahasa Al-Qur`an
berlaku pula deviasi
(penyimpangan
untuk memperoleh
efek lain) misalnya
dalam QS. Asy-
Su’ara’, ayat 78-82.
Pada ayat 78, 79
dimulai dengan lafal
allazi, pada ayat 80
dimulai waidza,
namun pada ayat
81, 82 kembali
dengan allazi, dan
fail pada ayat
78,79,81,82 adalah
Allah, sedang pada
ayat 80 faiilnya
orang pertama
(saya) tentu kalau
di’atofkan pada
ayat 78,79,81,82
maka terjadi deviasi
pemanfaatan
pronomina hua (وه).
Lafal yahdiin,
yumiitunii wa
yasqiin dan yasfiin
tanpa didahului
promnomina
tersebut. Pengaruh
dan efek deviasi
yang ditimbulkan
adalah munculnya
variasi struktur
kalimat sehingga
kalimat-kalimat
tersebut tersa baru
dan tidak
menjemukan20.
Selain itu
keseimbangan
redaksi Al-Qur`an
telah membuat
takjub para
pemerhati bahasa,
baik keseimbangan
dalam jumlah
bilangan kata
dengan
antonimnya, jumlah
bilangan kata
dengan sinonimnya,
jumlah kata dengan
penyebabnya,
jumlah kata dengan
akibatnya, maupun
keseimbangan-
keseimbanganyang
lain(khusus).
Misalnya ةايحلا dan
توملا masing-
masing sebanyak
145 kali. عفنلا dan
داسفلا sebanyak
50 kali dan
seterusnya. Kata
dan sinonimnya
misalnya, ثرحلا
dan ةعارزلا
sebanyak 14
kali,لقعلا dan رونلا
sebanyak 49 kali
dan lain
sebagainya. Kata
dengan
penyebabnya
misalnya, ىرسالا
(tawanan) dan
برحلا sebanyak 6
kali, مالسلا dan
تابيطلا sebanyak
60 kali dan lain-
lainnya. Kata dan
akibatnya
contohnya, ةاكزلا
dan تاكربلا
sebanyak 32
kali,قافنالا dan
اضرلا sebanyak 73
kali.21 Secara
umum Said Aqil
merangkum
keistimewaan Al-
Qur`an sebagai
berikut:
1. Kelembutan Al-
Qur`an secara
lafziyah yang
terdapat dalam
susunan suara dan
keindahan bahasa.
2. Keserasian Al-
Qur`an baik untuk
orang awam
maupun
cendekiawan.
3. Sesuai dengan akal
dan perasaan, yakni
Al-Qur`an memberi
doktrin pada akal
dan hati, serta
merangkum
kebenaran serta
keindahan
sekaligus.
4. Keindahan sajian
serta susunannya,
seolah-olah suatu
bingkai yang dapat
memukau akal dan
memusatkan
tanggapan dan
perhatian.
5. Keindahan dalam
liku-liku ucapan
atau kalimat serta
beraneka ragam
dalam bentuknya.
6. Mencakup dan
memenuhi
persyaratan global
(ijmali) dan
terperinci (tafsily).
7. Dapat memahami
dengan melihat
yang tersurat dan
tersirat.22
Semua data-
data yang penulis
paparkan, hanyalah
sekelumit
kandungan
kemukjizatan dari
sisi kebahasaan dan
tentunya masih
banyak hal terkait
dengan kontek ini
yang tak mungkin
penulis bahas.
Singkat kata bahwa
ditinjau dari
kebahasaan Al-
Qur`an mempunyai
kandungan makna
luar bisa baik
pemilihan kata,
kalimat dan
hubungan antar
keduanya, efek
fonologi terhadap
nada dan irama
yang sangat
berpengaruh
terhadap jiwa
penikmatanya atau
efek fonologi
terhadap makna
yang ditimbulkan
serta deviasi
kalimat yang sarat
makna. Sehingga
tak heran bila Al-
Qur`an
menempatkan
dirinya sebagai
seambrek simbul
yang sangat
komunikatif lagi
fenomenal.
Eksistensinya yang
sedemikian
luarbisa, membuat
bangsa Arab
khususnya saat itu
bertekuk lutut dan
tak mampu berbuat
apa-apa.
Kemukjizatan Al-
Qur`an dari aspek
Isyarat Ilmiyah
Selain
keistimewaan pada
kebahasaan, Al-
Qur`an juga
mempunyai isyarat-
isyarat ilmiyah
yang sebagian
ulama menganggap
sebagai bentuk
kemukjizatan Al-
Qur`an. Diantara
isyarat-isyarat itu
adalah bagaimana
Al-Qur`an
berbicara tentang
reproduksi
manusia.
Setidaknya ada
beberapa ayat yang
menjelaskan proses
kejadian manusia
yang berasal dari
Nutfah (air mani),
yaitu surat Al-
Qiyamah (75:36 -39):
36. Apakah
manusia
mengira,
bahwa
ia
akan
dibiarkan
begitu
saja
(tanpa
pertanggung
jawaban)
?
37.
Bukankah
dia
dahulu
setetes
mani
yang
ditumpahkan
(ke
dalam
rahim)
,
38.
Kemudian
mani
itu
menjadi
segumpal
darah,
lalu
Allah
menciptakannya,
dan
menyempurnakannya,
39. Lalu
Allah
menjadikan
daripadanya
sepasang:
laki-
laki
dan
perempuan.
Surat An-. Najm
(53: 45-46):
45. Dan
bahwasanya
Dialah
yang
menciptakan
berpasang-
pasangan
pria
dan
wanita.
46. Dari air
mani,
apabila
dipancarkan
Surat Al-Waqi’ah
(56: 58-59)
58. Maka
Terangkanlah
kepadaku tentang
nutfah yang kamu
pancarkan.
59.
Kamukah yang
menciptakannya,
atau kamikah yang
menciptakannya?
Ayat-ayat di
atas pada zaman
modern sesuai
dengan penemuan
para ahli genetika
bahwa air mani
yang menyembur
dari laki-laki
mengandung
200.000.000 lebih sel
sperma yang salah
satu darinya akan
menembus rahim
dan membuahi
ovum. Dalam
konsep tersebut
bahwa sel sperma
mempunyai
kromosum yang
dilambangkan
hurup XY,
sedangkan
perempuan XX.
Apabila sel sperma
yang berkromosum
X lebih dominan
maka akan lahir
perempuan sedang
apabila yang lebih
dominan Y maka
akan lahir laki-laki.
Barang kali inilah
penjelasan
sementara tentang
informasi ayat ke
39 surat Al-
Qiyamah. Kemudian
setelah ovum
terbuahi akan
menjadi zigot atau
yang dalam ayat ke
38 disebut
‘Alaqoh.23
Selain itu, Al-
Qur`an juga
mengisyaratkan
tentang kejadian
alam semesta,
bahwa langit dan
bumi tadinya
merupakan satu
gumpalan seperti
digambarkan dalam
QS. Al-Anbiya`21:
30.
1. Dan apakah
orang-orang yang
kafir tidak
mengetahui
bahwasanya
langit dan bumi
itu keduanya
dahulu adalah
suatu yang padu,
Kemudian kami
pisahkan antara
keduanya. dan
dari air kami
jadikan segala
sesuatu yang
hidup. Maka
mengapakah
mereka tiada
juga beriman?
Pada tahun
1929 Edwin P.
Hubbel (1889-1953)
mengadakan
observasi yang
menunujukkan
adanya pemuaian
alam semesta. Hal
ini sesuai dengan
QS. Azdariyat ayat
57 bahwa alam
semesta
berekspansi bukan
statis sebagaimana
diduga Enstin.
Ekspansi itu
melahirkan sekitar
seratur milyar
galaksi yang
masing-masing
mempunyai 100
milyar bintang.
Pada awalnya
semua benda-
benda langit
tersebut
merupakan
gumpalan gas
padat terdiri dari
proton dan neutron
yang mempunyai
kisaran secara
teratur, dan pada
derajat
temperature
tertentu gumpalan
tersebut meledak
yang proses ini
lazimnya disebut
Big Bang.24
Diantara
isyarat ilmiyah lain
adalah gunung.
Secara eksplisit
kata gunung dalam
Al-Qur`an
disebutkan
sebanyak 39 kali
dan secara implisit
terdapat 10 kali.
Dari 49 ayat
tersebut 22
diantaranya
menggambarkan
gunung sebagai
pasak atau
pancang bumi.
Misalnya dalam
surat An Naba`
78:7
1. Dan gunung-gunung
sebagai pasak.
Begitu juga dalam
QS. 13:3, 15:19,
16:15, 21:31, 27:61,
31:10, 50:7, 77:27
dan 79:32.
Fakta-fakta
mengenai gunung,
baru tersingkap
oleh para pakar
pada akhir tahun
1960-an, bahwa
gunung mempunyai
akar, dan
peranannya dalam
menghentikan
gerakan
menyentak
horizontal lithosfer,
baru dapat
difahami dalam
kerja teori
lempengan
tektonik(plate
tetonics). Hal ini
dapat dimengerti
karena akar
gunung mencapai
15 kali ketinggian
di permukaan bumi
sehingga mampu
menjadi stabilisator
terhadap
goncangan dan
getaran.25
Lebih lanjut
Airy(1855)
mengatakan bahwa
lapisan di bawah
gunung bukanlah
lapisan yang kaku
melainkan gunung
itu mengapung
pada lautan
bebatuan yang
lebih rapat. Namun
demikian massa
gunung yang besar
tersebut diimbangi
defisiensi massa
dalam bebatuan
sekelilingnya di
bawah gunung
dalam bentuk akar.
Akar gunung
memberikan
topangan buoyancy
serupa dengan
semua benda yang
mengapung. Ia
menggambarkan
kerak bumi yang
berada di atas lava
dapat dibandingkan
dengan kenyataan
sehari-hari yaitu
seperti rakit kayu
yang mengapung di
atas air, dimana
permukaan rakit
yang mengapung
lebih tinggi dari
permukaan lainnya
juga mempunyai
permukaan yang
lebih dalam.
Dengan demikian
permukaan bumi
tetap dalam
Equilibrium
Isostasis, artinya
bawa permukaan
bumi berada dalam
titik keseimbangan
akibat perbedaan
antara Volume dan
daya grafitasi.26
Masih banyak
lagi isyarat-isyarat
ilmiyah yang
disinggung Al-
Qur`an misalnya
tentang kejadian
awan, sistem
kehidupan lebah,
tumbuhan-
tumbuhan yang
berklorofil dan
seterusnya, yang
semua itu
merangsang
terhadap adanya
pembuktian-
pembuktian secara
empiris dan
rasionalis. Dan
semakin bukti-
bukti itu terkuak
semakin nyatalah
kebenaran Al-
Qur`an bahwa ia
bukan buatan
Muhammad.
Bagaimana
mungkin seorang
Muhammad yang 14
abad silam tak
mengenal
pendidikan tidak
bisa baca-tulis
mampu
menjelaskan hal itu
semua.
Pertanyaan
selanjutnya adalah
bagaimana posisi
kebenaran ilmiyah
terhadap isyarat-
isyarat ilmiyah Al-
Qur`an?. Satu hal
yang harus
dipahami adalah
bahwa Al-Qur`an
bukanlah buku
kumpulan teori
ilmiyah, ia lebih
merupakan suatu
petunjuk untuk
menuju pada tujuan
yang benar. Apabila
kita menganalisa
sedikit ayat-ayat
diatas bahwa Al-
Qur`an tidak hanya
berhenti pada
isyarat ilmiyah
tetapi lebih pada
bagaimana setelah
manusia itu
memahami dan
mengerti terhadap
isyarat-isyarat
ilmiyah tersebut.
Adapun ke-ilmiyah-
an Al-Qur`an hanya
sebatas juklak agar
tujuan-tujuan
Tuhan lebih
komunikatif dan
efektif. Sehingga
ada perbedaan
mendasar atas ke-
ilmiyah-an Al-
Qur`an dan “ke-
ilmiyah-an” dalam
pengetahuan
manusia. Sehingga
dapat di analogkan
ke-ilmiyah-an Al-
Qur`an adalah
peta dan “ke-
ilmiyah-an”
manusia adalah
proses penelusuran
jejak-jejak
tersebut, oleh
karenanya hanya
bersifat justifikasi
andaikata benar.
Sebab sevalid
apapun ke-ilmiyah-
an manusia ia tetap
tunduk pada
hukum-hukum dan
teori-teori ke-
probabilitas-an
manusiayang
notabene bersifat
serba terbatas.
Kemukjizatan Al-
Qur`an dari aspek
kisah-kisah purba
Diantara hal
yang menarik dari
Al-Qur`an adalah
bahwa Al-Qur`an
memuat beberapa
cerita kaum-kaum
terdahulu, hingga
jauh ke hulu
sejarah peradaban
umat manusia yang
tak mungkin buku
sejarah manapun
mampu mengcover
secara akurat.
Memang Al-Qur`an
tidak memaparkan
secara kronologis-
histories, karena
memang Al-Qur`an
bukanlah buku
sejarah. Al-Qur`an
menggunakan
sejarahpurba
tersebut hanya
sebagai icon
terhadap sebuah
fenomena tertentu
dengan maksud dan
tujuan tertentu.
Sehingga starting
pointnya dalam
memahami kisah-
kisah yang
terdapat dalam Al-
Qur`an bukan dari
dimensi histories
ansih, melainkan
dari dimensi agama
kisah merupaka
metode Tuhan
dalam rangka
menyampaikan
ajaranyang
terkandung di
dalamnya.
Bahkan Al-
Qur`an juga
memberi informasi
terhadap kejadian-
kejadian yang
bakal terjadi,
misalnya
kemenangan
bangsa Romawi
atas bangsa Persia
pada masa sekitar
sembilan tahun
sebelum peristiwa
tersebut terjadi.
Juga cerita tentang
datangnya seekor
binatang yang
dapat bercakap-
cakap menjelang
hari kiyamat, yang
terdapat dalam
surat An-Naml 27:
82.27
82. Dan
apabila
perkataan
Telah
jatuh
atas
mereka,
kami
keluarkan
sejenis
binatang
melata
dari
bumi
yang
akan
mengatakan
kepada
mereka,
bahwa
Sesungguhnya
manusia
dahulu
tidak
yakin
kepada
ayat-
ayat
Kami.
Manna’Kholil
Khattan
menyebutkan
macam-macam
kisahyang
terdapat di Al-
Qur`an. Pertama,
kisah-kisah para
Nabi dan segala hal
yang menyangkut
perjuangannya.
Seperti Nabi Nuh
AS, Ibrahim AS,
Musa AS, Isa AS,
Muhammad SAW.
dan seterusnya.
Kedua, kisah-kisah
yang berhubungan
dengan masa lulu
dan orang-orang
yang belum bias
dipastikan
kenabiaanya.
Misalnya kisah
beribu-ribu orang
yang pergi dari
kampungnya
karena takut mati,
kisah Talut dan
Jalut, dua orang
putra Adam,
Ashaabul kahfi,
Zulkarnain,
ashaabul Sabt,
Karun dan lain-
lainnya. Ketiga,
kisah yang
berhubungan
dengan peristiwa
yang terjadi pada
Nabi Muhammad
SAW. seperti
perang badar,
prang uhud, perang
Hunain, perang
Ahzab, tentang
Isra` dan Mi’raj
dan lain-lain.28
Sementra
diantara kritikus
baik dari orientalis
maupun
oksidentalis ada
yang meragukan.
Salah satunya
seperti yang
dikutip
Manna ’Kholil
Khattan, bahwa
salah satu kandidat
doctor di Mesir
mengajukan judul
Al Fannul Qasasiy fil
Qur`an, yang
intinya dalam
disertasi tersebut
menyatakan bahwa
kisah-kisah dalam
Al-Qur`an
merupakan karya
seni yang tunduk
kepada daya cipta
dan kreatifitas
kaidah-kaidah seni,
tanpa harus
memegangi sisi
kebenaran sejarah.
Dari pernyataan ini
jelas sekali bahwa
ia meragukan
kebenaran
terhadap kisah-
kisah dalam Al-
Qur`an.29
Dalam Al-
Qur`an surat Al-
Hadid(57):26
disebutkan:
1. Dan Sesungguhnya
kami Telah
mengutus Nuh dan
Ibrahim dan kami
jadikan kepada
keturunan
keduanya kenabian
dan Al kitab, Maka
di antara mereka
ada yang menerima
petunjuk dan
banyak di antara
mereka fasik.
Barang kali kita
merasa tertohok
jika ada orang
bertanya kapan
dan dimana Nabi
Nuh itu hidup
adakah bukti-bukti
secara empiris
terhadap hal itu?.
Untuk menelusuri
pertanyaan ini kita
dapat murujuk
pada tradisi Islam
yaitu Al-Qur`an-
hadis dan
sebagainya, tradisi
Semitis yang
meliputi injil, data
arkeologis dan
antropologis.
Al-Qur`an
surat 11:44,
mengisahkan
bahwa perahu Nabi
Nuh terdampar di
gunung Judy.
Maulana Yusuf
menafsirkan,
gunungJudy
terletak di
daerah yang
meliputi distrik
Bohran di Turki;
yaitu dekat
perbatasan Turki
sekarang dan
Irak dan Syiria.
Yakni
pegunungan
besar Plateau
Ararat yang
mendomonasi
distrik ini.
Dalam
teradisi Islam
dari Imam Abu
al-Fida’ Al-
Tadmuri
(Mattewhs 1949)
dapat
disimpulkan
bahwa sejarah
Nabi Nuh AS
mulai sekitar
6000 tahun yang
lalu atau 4000
SM. Sementara
daerah sekitar
seperti ayat di
atas di huni oleh
penduduk
lembah Trigis
Hulu atau
keturunan
mereka. Di
samping itu
pertemuan tadisi
Islam dan Injil
menguatkan hal
tersebut.
Menurut Al-
Tadmuri nabi
Nuh mempunyai
tiga putra yaitu
Sam, Ham dan
Yafat. Menurut
tradisi Injil dan
Yahudi putra
Nabi Nuh adalah
Shem, Ham dan
Japhet.
Sementara
Kanaan masih
polemic ada
yang
mengatakan
termasuk
putranyaatau
cucunya dari
Ham, yang jelas
masih keluarga
Nabi Nuh.30
Para sarjan
Yahudi percaya
bahwa Sam
adalah cikal-
bakal kelompok
ras yang
umumnya
sekarang disebut
Timur Tengah.
Ham dianggap
sebagai nenek
moyang oaring
yang tinggal di
Afrika Utara
sedangkan
kanaan sebagai
asal-usul
Canaanites yaitu
Hittites,
Amorites,
Jebusites,
Hivites,
Girghasites dan
Perrizites. Dan
Yafat dianggap
sebagai bapak
dari bangsa yang
mendiami
daerah utara
dan barat
Palestina.
Keterangan
yang mirip di
tuturkan oleh Al-
Tadmuri dalam
bukunya Muthir
Al-Gharam Fi
Fadl Zuyarat Al-
Khalili dengan
mengutip
riwayat At-
Tha’labi bahwa
Sam adalah
bapak dari orang
Arab, Parsi dan
Yunani, Ham
adalah bapaknya
orang Negro dan
Yafat adalah
bapaknya orang
Turki, Barbar
dan Ya’juj dan
Ma’juj.31
Dari
perkawinan
tradisi di atas
nampak formasi
kehidupan Nabi
Nuh sekaligus
mempertegas
terhadap kisah
yang ada dalam
Al-Qur`an
bukanlah
mengada-ada.
Meskipun dari
sudut latar,
setting, plot dan
alur tidak jelas.
Karena Al-
Qur`an tidak
hendak me-
narasi-kan suatu
peristiwa
dengan
pendekatan
sastra. Dan
menurut penulis
eksistensinya Al-
Qur`an sebagai
satu kesatuan
yang tak dapat
dipisahkan -
terkait dengan
masalah kisah-
kisah ini- maka
bila satu kisah
sudah dapat
dibuktikan
secara empiris
maka ini
sekaligus
membuktikan
bahwa seluruh
kisah dalam Al-
Qur`an adalah
benar dan non
fiktif adanya.
Kemukjizatan Al-
Qur`an dari aspek
Tasyri ’ (hukum)
Tak kalah
menakjubkan lagi
ketika Al-Qur`an
berbicara tentang
hukum(tasyri’) baik
yang bersifat
individu, sosial
(pidana, perdata,
ekonomi serta
politik) dan ibadah.
Sepanjang sejarah
peradaban umat,
manusia selalu
berusaha membuat
hukum-hukum yang
mengatur sekaligus
sebagai landasan
hidup mereka
dalam kehidupan
mereka. Namun
demikian hukum-
hukum tersebut
selalu
direkonstruksi
diamandement
bahkan dihapuskan
sesuai dengan
tingkat kemajuan
intelekstualitas dan
kebutuhan dalam
kehidupan sosial
yang semakin
kompleks. Perkara
ini tak berlaku
pada Al-Qur`an.
Hukum-hukum Al-
Qur`an selalu
kontekstual
berlaku sepanjang
hayat, dimanapun
dan kapanpun
karena Al-Qur`an
datang dari Zat
yang Maha Adil lagi
Bijaksana.
Dalam
menetapkan hukum
Al-Qur`an
menggunakan cara-
cara sebgai
berikut; pertama,
secara mujmal.
Cara ini digunakan
dalam banyak
urusan ibadah yaitu
dengan
menerangkan
pokok-pokok
hukum saja.
Demikian pula
tentang mu’amalat
badaniyah Al-
Qur`an hanya
mengungkapkan
kaidah-kaidah
secara
kuliyah.sedangkang
perinciannya
diserahkan pada
As-Sunah dan
ijtihad para
mujtahid. Kedua,
hukum yang agak
jelas dan
terperinci.
Misalnya hukum
jihad, undang-
undang
peranghubungan
umat Islam dengan
umat lain, hukum
tawanan dan
rampasan perang.
Seperti QS. At-
Taubah 9:41.
Ketiga, jelas dan
terpeinci. Diantara
hukum-hukum ini
adalah masalah
hutang-piutang QS.
Al-Baqarah,2:282.
Tentang makanan
yang halal dan
haram, QS. An-Nis`
4:29. Tentang
sumpah, QS. An-
Nahl 16:94. Tentang
perintah
memelihara
kehormatan
wanita, diantara
QS. Al-Ahzab 33:59.
dan perkawinan QS.
An-Nisa` 4:22.32
Yang menarik
diantara hukum-
hukum tersebut
adalah bagaimana
Tuhan memformat
setiap hukum atas
dasar keadilan dan
keseimbangan baik
untuk jasmani dan
rohani, individu
maupun sosial
sekaligus
ketuhanan.
Misalnya shalat
yang hukumnya
wajib bagi setiap
muslim yang sudah
aqil-balig dan tidak
boleh ditinggalkan
atau diganti
dengan apapun.
Dari segi gerakan
banyak penelitian
yang ternyata
gerakan shalat
sangat
mempengaruhi
saraf manusia, yang
intinya kalau shalat
dilakukan dengan
benar dan khusuk
(konsentrasi) maka
dapat menetralisir
dari segala
penyakit yang
terkait dengan
saraf, kelumpuhan
misalnya. Juga
shalat yang kusuk
merupakan bentuk
meditasi yang luar
biasa, sehingga
apabila seseorang
melakukan dengan
baik maka jiwanya
akan selamat dari
goncangan-
goncangan yang
mengakibatbatkan
sters hingga gila.
Dalam
konteks sosial
shalat mampu
mencegah
perbuatan keji dan
mungkar seperti
dalam QS.
Al-‘Ankabut 29: 45,
45. Bacalah
apa
yang
Telah
diwahyukan
kepadamu,
yaitu Al
Kitab
(Al
Quran)
dan
Dirikanlah
shalat.
Sesungguhnya
shalat
itu
mencegah
dari
(perbuatan-
perbuatan)
keji dan
mungkar.
dan
Sesungguhnya
mengingat
Allah
(shalat)
adalah
lebih
besar
(keutamaannya
dari
ibadat-
ibadat
yang
lain).
dan
Allah
mengetahui
apa
yang
kamu
kerjakan.
yang kedua
perbuatan tersebut
merupakan biang
kerok penyakit
sosial. Semua
bentuk kejahatan
sosial seperti
politik kotor,
korupsi,
kriminalitas
pelecehan seksual
yang semua itu
disebabkan oleh
nafsu (potensi)
syaitoniyah dan
shalat adalah obat
mujarab untuk itu.
Contoh lain
misalnya Al-Qur`an
ali imran2;159 yang
menanamkan
sistem hukum sosial
dengan berdasar
pada azaz
musyawarah.
1. Maka disebabkan
rahmat dari Allah-
lah kamu berlaku
lemah Lembut
terhadap mereka.
sekiranya kamu
bersikap keras lagi
berhati kasar,
tentulah mereka
menjauhkan diri
dari sekelilingmu.
Karena itu
ma’afkanlah
mereka,
mohonkanlah
ampun bagi mereka,
dan
bermusyawaratlah
dengan mereka
dalam urusan itu[33]
. Kemudian apabila
kamu Telah
membulatkan
tekad, Maka
bertawakkallah
kepada Allah.
Sesungguhnya Allah
menyukai orang-
orang yang
bertawakkal
kepada-Nya.
Ayat diatas
menganjurkan
untuk
menyelesaikan
semua problem
sosial dengan azaz
musyawarah agar
dapat memenuhi
keadilan bersama
dan tidak ada yang
dirugikan. Nilai
yang dapat diambil
adalah bagaimana
manusia harus
mampu
bertanggung jawab
terhadap diri
sendiri dan
kelompoknya,
karena hasil
keputusan dengan
musyawarah adalah
keputusan
bersama. Dengan
demikian keutuhan
masyarakat tetap
terjaga. Ayat
selanjutnya apabila
sudah sepakat dan
saling bertanggung
jawab maka
bertawakkal
kepada Allah. Hal
ini mengindikasikan
harus adanya
kekuasaan mutlak
yang menjadi
sentral semua
hukum dan sistem
tata nilai manusia.
Demikianlah
karakteristik
sekaligus rahasia
hukum-hukum
Tuhan yang selalu
menjaga keadilan
dan keseimbangan
baik individu, sosial
dan ketuhanan
yang tak mungkin
manusia mampu
menciptakan
hukum secara
kooperatif dan
holistic. Oleh
karena itu tak
salah bila seorang
Rasyid Rida -
sebagaimana
dikutip oleh
Quraish Shihab-
mengatakan dalam
Al-Manarnya
bahwa petunujuk
Al-Qur`an dalam
bidang akidah,
metafisika, ahlak,
dan hukum-hukum
yang berkaitan
dengan agama,
sosial, politik dan
ekonomi
merupakan
pengetahuan yang
sangat tinggi
nilainya. Dan
jarang sekali yang
dapat mencapai
puncak dalam
bidang-bidang
tersebut kecuali
mereka yang
memusatkan diri
secara penuh
danmempelajarinya
bertahun-tahun.
Padahal
sebagaimana
maklum Muhammd
sang pembawa
hukum tersebut
adalah seorang
Ummy dan hidup
pada kondisi
dimana ilmu
pengetahuan pada
masa kegelapan.
1. Kesimpulan
Menanggapi
masalah definisi
mukjizat yang telah
dihadirkan para
ulama, penulis lebih
cenderung pada
makna “bukti”, hal
ini didasarkan pada
bahwa kata
“ mukjizat” tidak
ditemukan dalam
al-quran melainkan
kata “ayat”. Bukti-
bukti inilah yang
luar biasa sehingga
manusia khusunya
masyarakat Arab
ketika itu bertekuk
lutut atau paling
tidak sebenarnya
mereka
mengakuinya.
Diantara bukti-
bukti yang luar
biasa tersebut
adalah pada aspek
kebahasaannya,
isyarat-isyarat
ilmiyah dan muatan
hukum yang
terkandung
didalamnya.
Ditilik dari
kebahasaan, Al-
Qur`an mempunyai
kandungan makna
luar biasa baik
yang dihasilkan
dari pemilihan
kata, kalimat dan
hubungan antar
keduanya, efek
fonologi terhadap
nada dan irama
yang sangat
berpengaruh
terhadap jiwa
penikmatanya atau
efek fonologi
terhadap makna
yang ditimbulkan
serta deviasi
kalimat yang sarat
makna. Ditambah
lagi adanya
keseimbangan
redaksinya serta
keseimbangan
antara jumlah
bilangan katanya.
Sehingga tak heran
bila Al-Qur`an
menempatkan
dirinya sebagai
seambrek simbul
yang sangat
kominikatif lagi
fenomenal.
Tak kalah
serunya Al-Qur`an
dilihat dari demensi
ilmiyah. Bagaimana
Al-Qur`an
mendiskripsikan
tentang reproduksi
manusia, hal ihwal
proses penciptaan
alam beserta frora
dan faunanya
tentang awan
peredaran
matahari dan
seterusnya yang
semua itu dapat
dibuktikan
keabsahannya
melalui kacamata
ilmiyah, sehingga
menujukkan bahwa
Al-Qur`an sejalan
dengan rasio dan
akal manusia.
Adanya kisah-
kisah misterius
dalam Al-Qur`an,
menempatkannya
sebagai ajaran
kehidupan yang
mencakup total
tata nilai mulai
hulu peradaban
umat manusia
hingga hilirnya.
Bahwa peristiwa-
peristiwa tersebut
sengaja dihadirkan
oleh Tuhan agar
manusia mampu
menjadikannya
sebagai ‘ibrah
kehidupan. Ia
merupakan sebuah
metode yang dipilih
Tuhan untuk
menuangkan nilai
yang terkandung
didalamnya.
Keistimewaan
Al-Qur`an yang
paling esensi
adalah petunjuk
hukum secara
kooperatif,
komprehensif dan
holistik baik yang
berkenaan masalah
akidah, agama,
sosial, pilitik dan
ekonomi yang
secara umum
bertolak pada azaz
keadilan dan
keseimbangan, baik
secara jasmani dan
rohani, dunia dan
akhirat atau
manusia sebagai
indifidu, social
masyarakat atau
dengan Tuhannya.
Demikianlah yang
dapat penulis
paparkan dan
akhirnya wallahu
‘alam bish-shawab.
***
DAFTAR PUSTAKA
1. 1. i. 1. Al-Qur`an
Terjemah
versi عمجم
كلملا
ةنيدملا
ةرونملا 1418
H
2. Dekdikbud,
Kamus
Besar
Bahasa
Indonesia,
hal 596,
Balai
Pustaka
Jakarta,
Cet. Ke II
1989
3. M. Quraish
Shihab,
Mukjizat Al-
Qur`an,
Misan
Bandung,
cetakan V
April 1999
4. Manna’
Khalil al_
Qattan,
Studi Ilmu
Qur ’an
( terjamahan
dari ثحابم
يف مولع
نآرقلا ),
Litera Antar
Nusa dan
Pustaka
Ilmiyah,
IKAPI
Yogyakarta,
cetakan V
1998
5. Prof. DR. H.
Said Aqil
Munawar,
MA, Al-
Qur`an
Membangun
Tradisi
Kesalehan
Hakiki,
Ciputat
Press
Jakarta,
Cetakan ke
2 Agustus
2002
6. Shihabuddin
Qulyubi,
Stilistika Al-
Qur`an,
Titan Ilahi
Perrs
yogyakarta
cetakan 1
November
1997
7. M. Syahrur,
al-Kitab wa
Al-Qur`an
(qiraatun
mu ’asharatun)
, Syarikah
Al-
matbuu ’ah
littauzii’ wa
an-nasyr
Beirut
Libanon
cetakan ke
VI 2000.
8. Ahmad Ash
Showy
(et.al)
Mukjizat Al-
Qur`an dan
As-Sunah
tentang
IPTEK, GP
Jakarta cet.
Ke IV 1999
1 M. Quraish Shihab,
Mukjizat Al-Quran,
Misan Bandung, cetakan
V April 1999, hal 23
2 Dekdikbud, Kamus
Besar Bahasa Indonesia,
hal 596, Balai Pustaka
Jakarta, Cet. Ke II 1989
3 M. Quraish Shihab,
Mukjizat Al-Quran,
Misan Bandung, cetakan
V April 1999, hal 23
4 Manna’ Khalil al_
Qattan, Studi Ilmu
Qur’an ( terjamahan
dari ثحابم يف مولع
نآرقلا ), Litera Antar
Nusa dan Pustaka
Ilmiyah, IKAPI
Yogyakarta, cetakan
V 1998 hal. 371
5 M. Quraish Shihab,
Mukjizat Al-Quran,
Misan Bandung, cetakan
V April 1999, hal. 24
6 Dalam Al-quran versi
عمجم كلملا ةنيدملا
ةرونملا diterjemahan .
Padahal belum datang
kepada mereka
penjelasannya , hal ini
mengandung arti
bahwa sebenarnya
akal manusia mampu
menerima kebenaran
atas ayat-ayat Allah
khususnya yang
terkait dengan al-
quran sebagai
mukjizat atas isi dan
susunan bahasanya.
Karena dalam hal ini
bahwa keluarbiasaan
tersebut berlaku di
alam untuk manusia.
7 Manna’ Khalil al_
Qattan, (Studi Ilmu
Qur’anterjemahan
dari ثحابم يف مولع
نآرقلا ), Litera Antar
Nusa dan Pustaka
Ilmiyah, IKAPI
Yogyakarta, cetakan
V 1998 hal. 375
8 Prof. DR. H. Said Aqil
Munawar, MA, Al-
Quran Membangun
Tradisi Kesalehan
Hakiki , Ciputat Press
Jakarta, Cetakan ke 2
Agustus 2002, hal. 30
9 M. Quraish Shihab,
Mukjizat Al-Quran,
Misan Bandung, cetakan
V April 1999, hal. 24
10 Lih. M. Syahrur dalam
bukunya al-Kitab wa
al-Quran (qiraatun
mu ’sharatun),
Syarikah Al-matbuu’ah
littauzii’ wa an-nasyr
Beirut Libanon
cetakan ke VI 2000.
hal 179
11 M. Quraish Shihab,
Mukjizat Al-Quran,
Misan Bandung, cetakan
V April 1999, hal. 36-37
12 Prof. DR. H. Said Aqil
Munawar, MA, Al-
Quran Membangun
Tradisi Kesalehan
Hakiki , Ciputat
Press Jakarta,
Cetakan ke 2
Agustus 2002, hal. 31
13 M. Quraish Shihab,
Mukjizat Al-Quran,
Misan Bandung, cetakan
V April 1999, hal. 90
14 Prof. DR. H. Said Aqil
Munawar, MA, Al-
Quran Membangun
Tradisi Kesalehan
Hakiki , Ciputat
Press Jakarta,
Cetakan ke 2
Agustus 2002, hal.
33-34
15 Lihat Shihabuddin
Qulyubi, Stilistika Al-
Quran, Titan Ilahi
Pers yogyakarta
cetakan 1 November
1997, hal. 39-41
16 M. Quraish Shihab,
Mukjizat Al-Quran,
Misan Bandung, cetakan
V April 1999, hal. 119
17 Shihabuddin Qulyubi,
Stilistika Al-Quran,
Titan Ilahi Perrs
yogyakarta cetakan 1
November 1997, hal.
45-46
18 M. Quraish Shihab,
Mukjizat Al-Quran,
Misan Bandung, cetakan
V April 1999, hal. 97
19 Shihabuddin Qulyubi,
Stilistika Al-Quran,
Titan Ilahi Perrs
yogyakarta cetakan 1
November 1997, hal. 54
20 Ibid. hal. 60
21 M. Quraish Shihab,
Mukjizat Al-Quran,
Misan Bandung, cetakan
V April 1999, hal. 141-142
22 Prof. DR. H. Said Aqil
Munawar, MA, Al-
Quran Membangun
Tradisi Kesalehan
Hakiki , Ciputat Press
Jakarta, Cetakan ke 2
Agustus 2002, hal. 35
23 Quraish Shihab,
Mukjizat Al-Quran,
Misan Bandung, cetakan
V April 1999, hal. 166-170
24 Ibid. hal 171-172
25 Zaghul Raghib
Muhammad Al
Najar, Mukjizat Al-
Qur`an dan As-
Sunah tentang
IPTEK , GP Jakarta
cet. Ke IV 1999, hal
122
26 Ibid, hal. 180
27 Quraish Shihab,
Mukjizat Al-Quran,
Misan Bandung, cetakan
V April 1999, hal. 194
28 Manna’ Khalil al_
Qattan, (Studi Ilmu
Qur’an ثحابم يف مولع
نآرقلا terjemahan
dari ), Litera Antar
Nusa dan Pustaka
Ilmiyah, IKAPI
Yogyakarta, cetakan
V 1998 hal. 436
29 Ibid, hal. 438-439
30 Zaghul Raghib
Muhammad Al
Najar, Mukjizat Al-
Qur`an dan As-
Sunah tentang
IPTEK , GP Jakarta
cet. Ke IV 1999, hal
67-68
31 Ibid. hal 68-69
32 Prof. DR. H. Said Aqil
Munawar, MA, Al-
Quran Membangun
Tradisi Kesalehan
Hakiki , Ciputat
Press Jakarta,
Cetakan ke 2
Agustus 2002, hal.
49-52
33 Maksudnya urusan
peperangan dan hal-
hal duniawiyah
lainnya, seperti
urusan politik,
ekonomi dan hal-hal
kemasyarakatan
lainnya. Terjemahan
Al-quran versi عمجم
كلملا ةنيدملا ةرونملا
1418. hal. 103
Ditulis oleh masaly - Reviewer: Miftah Farid - ItemReviewed: KEMUKJIZATAN AL- QUR`AN



Artikel Terkait:




Ayo Berkomentar di Blognya Anak Gaptek...

2 Respones to "KEMUKJIZATAN AL- QUR`AN"

 

© 2012 TerGapteK.Com All Rights Reserved Thesis WordPress Theme Converted into Blogger Template by Hack Tutors.info n Modified by Ayead Blogger TerGaptek Banjarmasin |