Artikel
BELAJAR DARI SEMUT



Di zaman saat ini kita harus mau mengakui bahwa salah satu penyebab utama krisis multidimensional yang menimpa bangsa ini adalah adanya sikap individual dari tiap-tiap komponen bangsa. Di setiap tingkatan sosial, baik itu rakyat jelata, buruh, pengusaha, sampai pejabat tinggi pemerintahan selalu ditemukan sikap individual yang membuat keutuhan Bangsa Indonesia semakin rentan. Sikap sikut menyikut, saling menjatuhkan kepentingan pribadi maupun golongan, serta berbagai perbuatan individualisme lainnya sudah menjadi menu utama di media massa kita. Bahkan sebuah media massa sebagai penyedia informasi yang punya pengaruh besar terhadap sikap masyarakat kita, masih sering menampakkan individualisme-nya melalui bias berita yang disajikan.
Sejarah nasional bangsa kita sudah berulang kali mencatat bahwa perjuangan baru akan berhasil bila di dalamnya terdapat persatuan, kesatuan, serta pengorganisasian yang kuat, tidak bergantung pada jumlah yang banyak. sebuah pepatah Arab mengatakan, “Al-katsiiru bi ghairi nidzaamin, yaghlibuhu al-qaliilu bi an-nidzaami” (jumlah yang banyak tetapi tanpa aturan, akan dikalahkan mereka yang sedikit tapi teratur). Senada dengan pepatah tersebut, Sun Tzu dalam “Art of War”-nya menyatakan, “Kekuatan suatu tentara tidak tergantung dari pasukan yang besar. Jangan maju hanya karena pasukan yang besar saja”.
“Jika ada propaganda, bikin dong propaganda yang lebih canggih!”, pernyataan KH. Abdurrahman Wahid ini menjadi inspirasi saya dalam membantu menemukan salah satu solusi untuk menyatukan bangsa. Jika dahulu Bung Karno pernah menyerukan, “Jadilah ‘Bangsa Tempe’!” , kepada bangsa ini untuk membangun bangsa yang kuat, maka dalam kaitannya dengan hal ini saya ingin menandinginya dengan seruan: “Jadilah ‘Bangsa Semut’!”. Pengubahan kata ‘tempe’ menjadi ‘semut’ yang saya lakukan tentu memiliki cukup alasan, bukti, dan kajian. Namun secara sederhana dapat dikatakan bahwa serangga yang namanya diabadikan sebagai nama salah satu surat dalam kitab suci umat Islam (surat An-Naml) ini merupakan makhluk paling sosio ekonomis dengan “peradaban” yang sangat maju. Di samping itu, keberadaan semut ini sendiri sering dianggap remeh oleh manusia. Padahal hewan yang sekali injak langsung mati ini, merupakan populasi tertinggi di dunia (dengan rasio setiap 700 juta semut yang muncul ke dunia ini, hanya terdapat 40 kelahiran manusia). Dan fakta yang lebih menakjubkan bagi bangsa ini adalah: dalam banyak hal kita telah dikalahkan semut!

Civil Society ala Semut

Antonio Gramsci dalam karyanya “Prison Notebooks” (1971), yang menganggap bahwa civil society sebagai bagian dari negara yang terlepas dari pemaksaan ataupun aturan-aturan formal, meski tetap mengandung unsure rekayasa, seperti lazimnya institusi politik. kalangan modernis Islam mengambil model masyarakat civil society dari kehidupan masyarakat Madinah zaman Nabi Muhammad dan para sahabatnya. Model masyarakat inilah yang kemudian disebut sebagai model masyarakat madani, yaitu masyarakat berperadaban (madaniyah) karena tunduk dan patuh (daana-yadiinu) pada ajaran kepatuhan (diin) yang dinyatakan dalam supremasi hukum dan peraturan.
Namun jauh sebelum itu, jutaan tahun sebelum teori-teori tentang civil society dan masyarakat madani muncul, Sang Pencipta Semesta telah menciptakan sebuah model alam yang akan menjadi sebuah contoh dan pelajaran yang berharga bagi umat manusia: semut! Dan ini terbukti bahwa semut-semut selama jutaan tahun telah menjalani sistem social yang ideal dan bertentangan dengan tatanan masyarakat manusia yang didasarkan pada persaingan dan kepentingan individu.
Serangga yang jumlah spesies-nya mencapai angka 14.000-an ini mengajarkan kepada kita memahami perbedaan sebagai nilai positif, rahmat Tuhan. Yang menarik dari kehidupan semut adalah cara hidupnya dengan berkoloni, dimana dalam koloni tersebut terdapat pembagian kasta yang masing-masing mempunyai fungsi untuk mendukung kelangsungan hidup koloninya. Sistem kasta ini terbagi atas tiga bagian besar. Dan yang lebih mengherankan adalah setiap anggota koloni semut, tanpa terkecuali, tunduk pada sistem ini. Di dalam tiga bagian besar kasta yang terdiri dari ratu dan semut-semut jantan, prajurit, dan pekerja ini tidak ditemukan adanya ranta komando antara yang satu dengan yang lainnya. Tugas-tugas terumit dalam masyarakat ini terlaksana karena adanya organisasi diri yang sangat canggih.
Di samping organisasi diri, dalam hal pengorbanan semut benar-benar mampu menunjukkan pengorbanan tingkat tinggi. Setiap semut menjalankan tugas sesuai kedudukan masing-masing tanpa merasa iri dengan tugas yang dilakukan semut dalam kasta yang berbeda. Semut juga mampu memberi segala miliknya, dari makanan hingga nyawa tanpa merasa ragu, agar semut lain tetap hidup.

Komunikasi dan Tehnologi

Perkembangan geopolitik internasional tidak lagi sebatas pendekatan ideologis, tapi sudah berkembang menjadi pendekatan informasi dan penetrasi pasar. Dan semut sebagai makhluk social pun telah “memahami” arti penting informasi dan komunikasi antar sesama. Dari menemukan mangsa, bertarung, membangun sarang, hingga gerakan saling mengikuti, hewan arthropoda ini banyak menggunakan isyarat kimiawi sebagai alat komunikasi. Dengan men-sekresi-kan sejumlah senyawa semiokemikal berupa feromon dari tubuhnya, semut bisa memberikan beberapa isyarat yang berbeda kepada sesamanya.
Di samping kecanggihan komunikasi, semut juga dianugerahi kecanggihan dalam bidang tehnologi arsitektur dan pertanian. Contoh dari ketinggian tehnologi arsitekturnya semut terdapat pada seni pembuatan sarangnya. Bangsa manusia untuk meniru pembuatan bangunan model sarang semut ini, cukup memakan sebagian besar usia manusia untuk menghimpun informasinya saja. Sebab dalam sarang ini terdapat pola keruangan yang terdiri dari banyak labirin ruang-ruang, dimana di dalamnya termasuk petak-petak perkebunan jamur, gudang makanan, pembuangan limbah, saluran sirkulasi udara, dan gua-gua dengan terowongan yang membentuk jalan sabuk sekitar 7,5 meter dari sarang. Dengan terowongan-terowongan ini beberapa “markas” semut bisa terhubung menjadi semacam kota metropolis bawah tanah.
Belum cukup kita dibuat terkagum-kagum dengan tingginya ilmu kimia, arsitek, dan pertanian semut, binatang dengan setengah juta sel syaraf dalam 2-3 milimeter tubuhnya ini juga memiliki kecanggihan biologis dalam tubuhnya. Contoh yang paling mudah dalam semua koloni semut adalah kecanggihan alat perkembangbiakan yang dimiliki setiap ratu semut. Meski setiap pejantan akan mati beberapa jam hingga beberapa hari setelah perkawinan, namun ratu semut bisa membuahkan keturunan dari sperma sang pejantan tadi walaupun telah mati bertahun-tahun. Padahal normalnya sperma makhluk hidup lainnya akan mati beberapa saat jika tidak segera bertemu dengan sel telur.
Dari fenomena inilah para ahli entimologi dan ilmuwan lainnya baru mulai memikirkan bank sperma manusia lima puluh tahun yang lalu. Padahal sejak zaman prasejarah, setiap ratu semut memiliki “bank sperma” yang berupa kantong oval bernama spermatheca. Dalam spermatheca inilah sperma semut pejantan dinonaktifkan secara fisiologis selama bertahun-tahun, dan kelak sang ratu akan mengeluarkan ke saluran reproduksinya.
Berbagai kehebatan semut yang terangkum dalam “The Miracle in The Ant”-nya Harun Yahya, menimbulkan berbagai pemikiran hebat tentang konsep tekhologi masa depan manusia. Meskipun secara individual semut tidak secanggih manusia, karena mereka hanya diberi kemampuan untuk melakukan sesuatu yang sederhana, namun kekalahan semut ini akan tertutupi jika mereka bekerja sama. Hidup dan kerja sama dalam koloni semut rupanya juga telah mempengaruhi NASA! Rencananya, organisasi ini akan mengirimkan banyak “robot semut” ke planet Mars daripada mengirimkan satu robot canggih. Jadi, meski sebagian robot rusak, robot lain yang tersisa akan mampu merampungkan tugas mereka.

Masya Allah… ternyata teknologi manusia tidak lebih dari sekedar teknologi semut!

Tehnik Bertahan

Semut mampu bertahan dari berbagai ancaman yang membahayakan kelangsungan hidupnya dengan cara bekerja sama. Dalam bertahan ini, semut mempunyai berbagai tehnik dan “siasat perang”. Mulai dari spesies yang bernama Basiceros yang merupakan “ahli kamuflase” dengan menentukan karakter fisiologisnya sendiri untuk bertahan, hingga Componotous yang rela meledakkan tubuhnya sendiri demi menyelematkan teman satu koloninya. Mulai dari “tehnik sensus” untuk mengukur kekuatan musuh, hingga “tehnik blockade” untuk memastikan kemenangannya. Seolah-olah semut ini memahami berbagai kaidah penilaian medan, kepemimpinan, dan keunggulan strategis lawan yang disampaikan oleh Sun-Tzu.
Semut-semut ini juga mengenal tehnik diplomasi untuk tetap bisa survive. Seperti layaknya hewan yang lain, mereka juga melakukan simbiosis untuk menjamin kelangsungan hidupnya. Mulai dari pohon akasia, hingga serangga daun menjadi model pembelajaran kita dalam memahami bagaimana sebuah kerja sama dapat menjadi keunggulan suatu bangsa. Yang pasti, semut-semut ini telah begitu banyak mengajarkan kepada kita, bagaimana sebuah bangsa yang yang terdiri dari elemen-elemen yang hanya melakukan tugas sederhana namun mampu menjadi bangsa yang kokoh. Bahkan jika konsep hidup ala semut ini diterapkan di Indonesia, mungkin akan segera menghapus stereotip “Orang Jepang berkeringat karena mereka berpikir, orang Amerika berkeringat karena mereka bekerja keras, dan orang Indonesia berkeringat karena selesai makan!”.

Menarik! Semut yang tidak pernah mengikuti mata kuliah sosial-politik, arsitektur, kimia, biologi, dan pertanian ini mampu menjadi nasehat alamiah kepada bangsa Indonesia untuk segera bersatu dan merapatkan barisan kembali.



Sumber: http://www.ukkiunesa.com/index.php?subaction=showfull&id=1217952787&archive=&start_from=&ucat=5& - Reviewer: Miftah Farid - ItemReviewed:



Artikel Terkait:




Ayo Berkomentar di Blognya Anak Gaptek...

0 Respones to " "

 

© 2012 TerGapteK.Com All Rights Reserved Thesis WordPress Theme Converted into Blogger Template by Hack Tutors.info n Modified by Blogger TerGaptek |